Senin, 18 Desember 2017

Mengasah Etika Bisnis Dalam Islam

"Saya sudah tidak peduli lagi kalau dianggap mata duitan.", tutur beliau dalam suatu sesi. "Bisa saja saya membuka kelas ini gratis. Dan saya akan dianggap mulia. Itu mudah." Yang tidak semua bisa, adalah tetap luhur meski seolah berkubang lumpur.

Membagi-bagikan makanan lalu orang menyayangimu, itu mudah. Tapi level kita mestinya meneladani Rasul. Beliau berbisnis. (Meski setelah jadi Nabi, beliau perlahan meninggalkannya agar fokus melayani umat).

Beliau sangat lekat dengan tindakan komersil. Transaksional. Hal-hal yang bisa jadi melunturkan kemuliaannya. Tapi nyatanya, tidak. Meski berkubang dalam kegiatan yang seolah duniawi, nyatanya tidak ada yang mengecap beliau matre. Justru partner bisnis dan konsumen beliau merasa bahagia bertransaksi dengannya. Sahabat-sahabat beliau juga pebisnis. Namun, tidak ada yang "turun derajat". Justru, bisnis-bisnis sahabat ini menjadi eskalator spiritual. Kenapa?

Akhlak.

Berbisnislah untuk menguatkan iman dan mengasah akhlakmu. Adalah mudah menjadi orang jujur karena tidak pernah mengikuti ulangan dadakan, tidak pernah menemukan dompet di jalan, tidak pernah diamanahi uang ratusan juta "modal percaya" saja, tidak pernah tawar menawar.

Tetap Luhur di Kubangan Lumpur

Berbisnis adalah salah satu wahana ujian akhlak. Sebagaimana nabi mendapat gelar Al-Amin salah satunya karena lolos ujian berdagang. Bekerja adalah sarana melatih Tawakkal. Mereka yang telah menceburkan dirinya pada ketidakpastian, mau tidak mau akan mencari tempat bergantung. Maka, kita dapati mereka yang nekad berdagang, tekun bekerja, dan berani merelakan tabungannya, akan ketar-ketir lalu khusyu berdoa.

Kita juga tahu bahwa Rasul selalu memprioritaskan pembangunan masjid dan pasar. Karena bisa jadi, dua hal inilah pondasi peradaban. Adalah mudah orang menganggapmu baik kalau kau hanya di masjid, bukan di pasar. Masukilah pasar, untuk menguatkan rindumu pada masjid. Kuasailah pasar, untuk "membangun" masjid di dalamnya.

Kalau orang baik adalah mereka yang menganggap najis dunia, kenapa nabi kita bukan pertapa? Mengapa Tuhan tidak meminta beliau untuk tetap bersemadi di dalam gua?

Tentu saja beliau tidak bermaksud meremehkan yang gratisan. Bukan pula mendorong kita untuk mengkomersilkan apa-apa tindakan kita. Beliau sekedar menjernihkan cara pandang saya. Tidak semua yang berbau uang itu tabu. Kita bisa profesional, sekaligus spiritual. Bukan kerja "dan" ibadah. Tapi, kerja "itu" ibadah.

Salah satu pembedanya, adalah apa yang kita rasakan setelah berlelah-lelah mencari nafkah. Apakah nafsu foya-foya (yang dijustifikasi dengan alasan "menghibur diri") makin kuat? Atau sebaliknya. setiap menerima hasil kerja, kita diliputi rasa syukur yang luar biasa. Lalu, muncul tenang total setelahnya yang diikuti dorongan memberi yang jauh lebih besar.

"Bukan work hard, play harder. Tapi work hard, sedekah harder."

Dengan candaannya yang khas, beliau menutup. "Kemuliaan saya tidak dipengaruhi cibiran orang. Justru karena saya sudah mulia, maka saya 'mengkomersilkan' kelas ini. Supaya tidak terlalu mulia."

Sebelum menutup tulisan ini, saya perlu menggarisbawahi keras-keras. Cara pandang ini bukan untuk membenarkan mereka yang nafsu komersialisasinya sudah tak terkendali. Ini hanya tepat bagi mereka yang masih malu, ragu-ragu, padahal itu halal, wajar, bahkan bisa jadi wajib.

Maka di akhir tulisan ini, saya merasa judul tulisan ini perlu saya revisi menjadi: Justru karena lumpur, kita menjadi luhur.

Sumber tulisan: facebook.com/Bondan.Satria.Nusantara

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search